Kartinian


kartiniTurun dari masjid selepas sholat subuh, salon dekat rumah wes buka dan pasiennya ternyata anak anak SD.
ada perbincangan menarik hingga menggelitik saya untuk nguping, : “ada apa sih kok rame ger geran (ketawa bareng)”.
setelah mendekat aku mendengar protes orang tua salah satu anak pada pemilik salon !.
ot : mba dandanan anak saya kok gitu sih ?
Ps : emang kenapa bu ?
Ot : dandani yang cantik dong, anak saya, spt anak anak lainnya.
Ot : saya sanggup bayar lebih mba!
Ps : lha itu sudah didandani cantik gitu….. apanya yang kurang bu ?
Ot : tuh kulitnya buat putih, agar anakku juga nampak cantik !
Ps : oalaa bu bu, kalo anak ibu kulite dibuat putih, malah jadi bahan guyonan bu !
Ot : lhooo kok bisa ?
Ps : kalo pengen putih mendadak kan di cat, wkwkwkwkwk

demikian hebohnya dandanan kartini, dirias sejak subuh, langit masih gelap, antri di dandani berderet panjang ada yg seneng ada yang masih ngantuk.
Antusias sebenarnya dari orang tuanya, anak anak manut manut saja, saat di bonceng ke salon sambil ngantuk2.

Katini….. masih jadi pujaan anak2, sedang ibuk2nya cuman sbg fasilitator, ga mau dandan ala kartini.
Mereka bangga anaknya berdandan kartinian, tanpa mau mengerti kenapa kita perlu meniru spt figur kartini.

Bukan dandanan kartinian sebenarnya yang perlu, tapi bagaimana ibuk2 jaman ini, mampu memberikan makna atau tetenger seperti kartini dahulu.
Kartini dahulu membela perempuan dalam pendidikan, memberi pelajaran budi pekerti pada sesama utamanya keluarga.

Kartini jaman sekarang justru bangga kejar karir dg menitipkan anak anaknya pada tempat penitipan anak, bayangkan anak anak seperti : sepeda, motor, mobil… walo namanya sekarang da diganti baby care.

Kartini namamu harum dikenang setiap generasi, bukan jadi panutan setiap generasi, alasannya klise cari uang (bekerja).
Contohlah wanita jepang, setelah memutuskan untuk berumah tangga, mreka fokus ngurus anak dan suaminya, sehingga pendidikan budi pekerti dpt di serap secara total dalam keluarga, efeknya masyarakat jepang sangat menghargai budaya mereka.

Kalo kita mau jujur, generasi saat ini; adalah korban kartini modern…. maap kalo ga sepaham.
Full day school adalah contoh, kita ga mau merawat generasi penerus, efek negatipnya anak2 ga kenal dg lingkungan di rumahnya, mreka gak cukup waktu untuk sholat jamaah di mesjid, ngaji di TPQ, yg jelas2 anak bisa interaksi dgn lingkungan dan strata lebih rendah (kampung).

semoga bisa jadi renungan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s