Sdh sana nduk


“Sdh sana nduk, segera mandi dan berwudhu, biar segar. Terus sholat”
“Ya mbah”
“Nanti, setelah subuhan, mbah buatkan wedhang jahe, biar tdk masuk angin, dan rubuhmu kembali hangat”
“Ya mbah”
“Kamu sdh mengantuk”
“Blm, iya ya mbah, aku kok tdk ngantuk, padahal lek lekan smalaman”
“Walaupun tdk mengantuk. Tetap saja nanti setelah sholat dhuha, istirahatkantubuhmu bbk”
“Ya mbah”
“Kamu libur sekolahkan”
“Iya”

“Mbah, kok bisa ya mbah aku ndak tdr smalaman”
“Ya bisa saja kalau mau. Kalau diniatkan”
“Mbah, sebetulnya, untuk apa siich kita belajar tdk tidur malam td”
“Ya untuk belajar….melatih kemampuan dirimu, u mengatur pikiran perasaanmu, terutama melatih matamu, jd tdk kebanyakan merem”
“Emang penting ya mbah”
“Ya agar, kamu smakin dpt mengurangi waktu tidurmu, tp tdk menggunakan obat, kalau kalau sdh bisa menahan kantukmu, smalaman. Maka muudah bagimu, untuk mengurangi waktu tidurmu”
“Padahal kt orang, tdr kita itu yg bagus 6 sampai 8 jam”
“Nduk, tidur sebnyak itu…kalau tdk nyenak ya ndak bagus. 3 smpai 4 jam sebenarnya sdh cukup, kalau tidurmu itu bener bener tidur”
“Emang, ada tidur. yg boongan”
“Ya ada, bilangan tidur, tapi sambil pikirannya kemana kamana, katanya tdr tapi sambil mendengarkan radio….ya percuma. Mata merem tapi pikirannya …perasaannya…kemana mana.”
“Oo…”
“Orang orang yg hebat keiilmuannya itu bisasanya tdrnya dibatasi, sebagian besar waktu malamnya digunakan u membaca, menelaan berbagai hal. Ingatkan kamu, pengarang buku ihya”
“Iya, iman ghozali”
“Kitabnya itu ditulisnya di malam, dan para alim ulama itu menyedikitkan tidurnya, karena mereka ingin, saat orang lain lelap, mereka mambuat karya. Sehingga karyanya itu, tdk terganggu oleh kebisingan dan hiruk pikuk dunia”
“Geitu ya mbah”
“Semalam waktu melek itu, kok mbah perhatikan kamu sering melamun”
“Hehe….Inget ibuk”
“Kamu kangen”
“Iya, tapi aku kepikiran yg lain”
“Apa itu”
“. Aku ini ada disini, krn ibuk, ibu ada krn mbah, mbah ada karenaa mbah buyut,…terus begitu, klau diurutin ke atas”
“Terus”
“Iya, walau aku tdk sama ibuk, aku tetap anaknya ibu, tetap cucunya mbah”
“Juga anaknya bpk kan”
“Hehe iya”
“Terus apa lagi yg kamu pikirkan smalam”
“Nanti, aku juga bakal punya anak kan mbah”
“Tentunya”
“Aku. Jadi bisa tahu rasanya jd ibu”
“Iya”
“Kalau anaknya bandel, ora nurut jd sedih, merasa bersalah tdk bisa mendidik”
“Mbah, juga merasa gitu, kalau aku nakal”
“Iya sperti begitu”
“Mbah, aku jd kangen banged sama ibu”
“Doakan ibu mu, selalu sehat dan bahagia”
“Ya mbah”
“Baginda Rosul, itu juga mengajarkan kdp kita mencintai u ibu kita. Karena melalui rahimnnya kita ada. Karena melalui kasih sayangnya kita ada, jadi melalui ibulah, Gusti Allah menjadikan kita ada”
“Tapi hrs ada bpknya…hehe”
“Kalau Gusti Allah kehendaki, bisa langsung. Itu Nabi Isa”
“Iya ya”
“Ya sdh yuk kita ssubuhan dulu…nanti setelah itu kita bicarakan lagi….apa yg kamu dptkan …dr perjalannmu tdk tdr semalam tadi”
….Dan sesaat kemudian….sdh terdengar suara iqomah dr surau….kami, segra bergegas…ke sana u berjamaah solat subuh…

10 April 2015 pukul 5:11

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s