KADO MILADKU ke 58


Assalamu’alaikum INDONESIA :
milad bapak 58Selamat pagi, untuk Kiyai saya, Guru saya, Dulur, Ponakan, Sohib, teman teman semua yang sudah mengucapkan “SELAMAT MILAD” saya yang ke 58 ini”.
Ingin sekali sebenarnya membalas ucapan pada ULTAH kali ini satu persatu. sayangnya, tangan sudah nampak kriting, mohon maap, I’m sory sobat…!
Saya berharap semoga kebahagiaan ini bisa menular pada semua yang telah atau belum mengucapkan, semoga keberkahan GUSTI ALLAH selalu tercurah untuk kita semua dan kita selalu diberikan sehat dan sukses dalam menjalankan peribadatan, pekerjaan maupun studi.

58 tahun tak terasa umurku kini, 5+8 bila kita tambahkan menjadi angka 13 (tiga belas) kata orang, angka ini angka keramat, artinya harus hati hati, jangan sembrono, sekali kepeleset, abis sudah cita cita kita !
Angka 58 merupakan angka perlu kita merenung sudah berapa banyak kita melaksanakan ibadah, sudah berapa sering kita melaksanakan puasa wajib maupun sunnah, sudah berapa besar kita mengeluarkan zakat ,sedekah, sudah berapa besar kesabaran hati kita menghadapi ramainya dunia ini ?.
Saya sendiri seolah hanya berumur 8 tahun saja, karena selama 50 tahun cara peribadatan, sedekah, bicara dengan orang lain seperti tak memiliki arti apa apa, apakah 8 tahun itu dapat mengantar diri ini memasuki suargaNYA Gusti Allah, ckckckckckckk rasanya tak pantas, namun saya takut bila harus berhadapan dengan panasnya api NERAKA, semoga kita semua terhindar dari panasnya siksa NERAKA, amin.
Pernah saya diceramahi anak kecil, dia bercerita : “pakde, tahu nggak ternyata manusia itu harus sabar, tak tergesa gesa dalam menterjemahkan ucapan orang, kadang ucapan yang menyakitkan, bila kita tak langsung kita jawab dan tanggapi, maka, kita akan jernih dalam menerima perkataan itu”.
Maksud kamu apa bercerita tentang sabar pada pakdemu, apakah pakdemu ini kurang sabar menurut kamu ?,
Bukan cuman pakde, yang yang saya maksud, tetapi semua saja, kecil besar, tua muda, sehat ataupun yang berbaring di rumah sakit atau sekedar di kasur rumahnya sendiri !.
Maksud kamu apa ?, begini pakde : “ini cerita guru saya yaaa pakde, bukan cerita karangan saya sendiri. Ketika Umar Bin Khattab (khalifah), sedang inspeksi masuk keluar kampong, ketemu dengan seorang muslim, umar mengucapkan salam, Assalamu;alaikum yaa fulan?, dijawab wa’alaikum salam yaaa Amirul mukminin.
Bagaimana kabar islam anda hari ini ?
Sahabat menjawab : hari ini saya paling suka, memelihara fitnah, saya selalu suka dengan fitnah itu !, kemudian saya juga memiliki sesuatu yang Allah swt tak memiliki.
Mendengar jawaban sahabat itu, tangan Umar bin Khatab seolah akan melayang ke wajah sahabat tersebut, Alhamdulillah Ali bin Abi Tholib datang dan menangkap tangan Amirul Mukminin (Umar). Seraya berkata ‘ “ada apakah gerangan yaa amirul mukminin, sampai anda begitu marah terhadap sahabat ini ?.
Umar bin Khatab berkata : “bahwa sodara ini telah mengucapkan kata kata yang tak pantas diucapkan oleh seorang muslim ! ,
Ali melanjutkan, “ kata kata apakah gerangan ?,
Amirul Mukminin(umar) menjelaskan : “bahwa sahabat ini telah berkata :
Dia berkata, bahwa dirinya telah paling suka memelihara Fitnah, padahal Fitnah itu dilarang dalam Islam.
Dengan enteng Ali bin Abi tholib menjawab : oh itu masalahnya, wahai amirul mukminin, bukankah di dalam alquran sudah disebutkan – ”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 28), apabila yang dimaksud oleh sahabat ini adalah yang demikian, mana dirinya akan mendapat pahala yang besar disisi Gusti Allah apabila bisa memelihara fitnah itu sesuai dengan ajaran agama Islam.
2. Kemudian Umar, melanjutkan : “teman kita ini berkata saya juga memiliki sesuatu yang Allah swt tak memiliki, bukakan Gusti Allah itu MAHA KAYA, sifat MAHA itu tak mungkin GUSTI ALLAH tak memiliki sesuatu seperti yang dikatakan oleh teman kita ini. Wahai Amirul Mukminin, bukankan Gusti Allah sendiri yang berfirman :
Dalam surat al ikhlas ayat ke 3 : lam yalid walam yuulad (Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan),
Apabila yang dimaksud oleh teman kita ini, adalah dia memiliki anak, sedang Gusti Allah tak memiliki anak, maka benar kata kata sodara kita ini.
Segera Amirul Mukminin (Umar bin Khatab), berucap Alhamdulillah, terima kasih sodara ku Ali bin Abi tholib, andaikan anda tak datang tepat waktu, maka sodara kita akan aku aniaya yang sebenarnya aku sendiri ga mengerti maksudnya.
Begitu pakde cerita dari guru saya itu, menurut pakde bagaima mana ? bagus ngga ?, “wahh bagus sekali” : kata saya.
Jadi, pakde mulai sekarang harus bisa bersabar di dalam menerima ucapan orang yaaa ?
Yaaa yaaaa : kata saya .
Kesimpulan :
– Ceritera anak kecil kadang memberikan hikmah yang gede sekali, seperti yang telah diceritakan pada saya walaupun itu hasil cerita dari gurunya, setidaknya kita harus menyediakan waktu untuk mau mendengarkan orang lain, tanpa memandang, usia, status social de-el-el.
– Menerima ucapan orang lain yang nampak kurang waras menurut ukuran kita, harus kita cermati dahulu, jangan kita musuhi apalagi sampai terjadi penganiayaan, malah fatal, bila nanti akhirnya cara berfikir kita beda dengan orang tersebut (orang tersebut malah yang benar).
– Menyampaikan kata kata sebaiknya dijelaskan, maksud dari (esennsi) dari kata kata yang diucapkan, sehingga tak menimbulkan fitnah (sak wasangka).
Semoga ada manfaatnya
Pakde Azmi
27052016

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s