Hikmah atas meninggalnya Ibu-ku


Hikmah atas meninggalnya Ibu-ku
(ibu Samiati Sadono biasa di panggil Ibu Soegiri)
======================================
sepintas proses kematian itu hal lumrah (biasa), namun saya merenung ada apa di balik meninggalnmya ibu mertuaku ini !.
Ibu soegiri seorang wanita tangguh, sabar dan punya kepribadian yang patut di tiru anak cucu serta cicitnya kelak, beliau selalu melindungi semua putra putri tanpa kecuali, baik anak2 yang patuh maupun yang sedikit kepatuhannya, selalu di bela dan di doakan agar suatu saat kelak bisa menjadi manusia sempurna (itu pesan yang selalu saya dengar).
Proses kematian ibu mertuaku termasuk cepat dan singkat bila di runut dari macam2 penyakit yang di derita, namun karena beliau rajin berobat ke rumah sakit selama kurang lebih 20 tahunan, namun beliau nampak segar dan sehat selalu, padahal setiap kontrol ke dokter obat yang harus di ambil satu keresek penuh, bisa kita bayangkan betapa malasnya bila itu menimpa orang lain, tapi ibuku ini tetep rutin konsumsi obatnya, baik oral maupun yang suntik, apa kata beliau kok rajin konsumsi obat, agar dirinya masih bisa momong anak2, cucu2 dan cicit2nya, agar bisa memberikan teladan dan kemakmuran HATI (kesabaran) pada keluarga besarnya, hidupnya bisa bermanfaat untuk keluarga besarnya baik keluarga kecilnya (bapak, ibu dan anak, cucu dan cicitnya), maupun keluarga besarnya (keluarga SADONO), semua adek2nya di rangkul, ponakan2nya di nasehati, cucu dan cicit ponakan di beri kasih sayang yang sama tanpa membedakan status sosial, agama dan kebiasaan. kini kebiasaan itu akan hilang; beliau selalu memberikan sedekah untuk sodara2, ponakan dan cucu, cicit ponakan semua yang datang baik lebaran maupun ngga inshaa allah diberi angpo, lhaa yang seperti ini sulit di tiru bila tidak dibiasakan mulai awal.

proses meninggalnya beliau kira2 dapat saya rangkum sebagai berikut :
– Sabtu Malam (16 Juli 2017), saya di call adek yang setia menjaga beliau (se rumah), Budhe, pakdhe ibu kok mengeluh), bergegas saya datang karena rumah ibu karena rumah saya dekat banget, setelah rembugan di putuskan untuk di bawa ke UGD RS Haji Surabaya, sampai di UGD, oleh Dokter di sarankan untuk Opname saja, namun ibu mohon agar bisa rawat jalan, karena kasihan anak2 kalo harus jaga beliau semua pada sibuk, kami sebenarnya sudah sarankan juga agar opname tetapi beliau tetep minta pulang saja.
– Minggu Pagi (16 Juli8 2017) beliau minta kontrol ke dokter praktek spesialis jantung (kontrol rutin), sampe di tempat praktek dokter, dokternya bilang kenapa ga opname saja, biyar ibu bisa istirahat dan ada yang ngawasi intensip.
Sepulang dari dokter praktek, anak2 cucu dan cicitnya mengadakan tasykuran MILAD Beliau, masih sempat pesan2 agar tetep sabar momong anak dan cucu, hidup yang rukun agar hidup kaMU makmur, rawatlah kebiasaan baikmu bimbing adek2 kamu, jangan putus2 kash nasehat kebaikan….. di lanjt dengan tip lilin dan selesai.
– Minggu Malam (16 Juli 2017), kesehatan beliau makin turun, kaki mulai sulit digerakkan, rebugan lagi dan di bawa ke UGD RS Haji, setelah di rawat hingga pukul 01.30an, keluarga memutuskan untuk rawat inap, namun naseb berkata lain, kamar sudah penuh semuanya, sampe paviliun kelas 1 juga gak ada (kosong), ibu masih sadar, hati sudah mulai cemas, sambil berdoa saya mencari cara, ketemu pikiran agar di bawa ke Rumah Sakit lain, tetapi beliau ngga mau, alasan status medisnya ada dui RS Haji, takut ngulang dari nol akan menambah berat dirinya (menolak), dapat akal sepontan, saya katakan Bu, ikhtiar Medis sudah kami jalankan kamar kosong, nunggu besok pagi mungkin ada, saya tanya, bagaimana kalo kita Ikhtiar religi saja, biyar Gusti Allah yang menangani ibu, gimana caranya ?, : “tanya beliau”, ibu sedekah saja, tapi kalo sedekah kecil ngga ngefek, berani ngga sedekah 1 juta , 2 juta dst, tapi uang ibu sendiri, saya bawa uang tapi percuma, kalo uang ibu sendiri kan ibu punya hbungan batin dengan gusti Allah, saya bawa uang tapi saya ngga mau sedekah dari duwet saya, beliau menjawab, ya udah sedekah saja, ibu ikhlas, dan beliau kami bawa pulang, sampe di rumah, uang di cari ketemu kami masukkan amplop 1 juta, rencana akan diberikan pada pondok pesaNTREN yang dalam tahap pembangunan, setelah amplop di tutup, saya pulang….. besok pagi pukul 07.30 (17 juli 2017), ibu sudah mengalami penurunan respon, panggil dokter klinik terdekat, agar dapat surat pengantar ke UGD, setelah dapat surat pengantar, nugasi adek ke UGD RS Univ Airlangga (kampus C), juga pinjam ambulance, berbekal ambulace, beliau di bawa ke UGD RSUA kampus C, di tangani dokter ahli, hingga malamnya di pindah ke kmar perawatan LANTAI 4 kamar 420.
– Senin (17 Juli 2017), anak2, cucu2 dan cicitnya ngumpul di RS, sodara2 beliau, ponakan dan cucu ponakan juga ngumpul, semua pada cemas pada kondisi beliau, alat bantu pernafasan (oksigen), terus membantu beliau untuk tetep stabil kondisi pernafasannya, kondisi seperti orang cemas (ngga tenang) dialami beliau, dibantu anak dan menantunya untuk berucap Allah… Allah . . .. . alhamdulillah ada respon suara lirih sambil menitikkan air mata……..
– Selasa (18 Juli 2017), kondisi masih seperti nampak cemas, saya kumpulkan bapak (mertua), isteri dan adek2 dn ipaR juga… saya beri tahu kepada Bapak : bapak, mungkin kita sudah maap2an saat lebaran, bisa juga hanya formalitas saja ngga nyampe ke hati, sekarang waktunya kita berani memberikan keikhlasan yang dalam, khusus Bapak, isteri itu dosa banget bila sampe suara keras pada suami, nah sekarang berikan ihlas dan ridhonya Bapak, setelah selesai rembugan masuk ruang perawatan bapak menyampekan kalimat menyentuh hati : “Bunne, aku wes nyepurani kesalahanmu kabeh, aku ridho dan ikhlas nyepurani, semono ugo aku tolong njaluk sepuro yen onok salah karo awakmu…. sontak pasien dan penjaga sekamar dengan ibu, semua yang dengar nangis, mendengar kata2 bapakku, dilanjut dengan budhe azmi lanjut dengan anaka2 lainnya…………. percaya atau ngga ibu dalam keadaan gak sadar itu, bisa mengeluarkan air mata…………..
– Rabu (19 Juli 2017), pelan2 nafas beliau mulai kalem diketahui dari suara alat bantu yang berunyi ut tut tut, makin lama makin kalem tepat pukul 10.15 suara itu sudah menghilang…. dokter menyatakan beliau sudah di panggil Gusti Allah dengan tenang, di tungguhi suami, anak2, cucu dan cicitr serta sodara sodara2nya….. Inna lillahi wa inna ilahi rojiun . . . . selamat jalan Ibu….. Inshaa Allah disediakan surga untukmu, anak cucu dan cicitmu akan selalu memanjatkan doa tak henti2 untuk dirimu, tidurlah dengan tenang di alam barzah, semoga doa2 anak cucu dan cicitmu mampu memberikan penerangan dan keluasan alam barzah hingga saat dirimu di bangkitkan kelas untuk berkumpul dengan kami semua.
Pelajarannya :
Hikmah yang dipetik adalah :
– anak, cucu, cicit yang jarang sholat pada rajin sholat, rajin ke mesjid
– anak, cucu cicit yang jarang berkumpul walo saat lebaran, bisa ngumpul dan nangis bareng (subhanallah)…. AJAIB
– sodara yang jarang ketemu bisa ngumpul, dengan melupakan pertengkaran yang hisa merenggangkan mereka, mereka bersatu saling membantu, saling pelukan
– sodara yang jarang sholat malah ada yang ngga bisa, jadi ngerti dan mau ikutan sholat jenazah . . . . . LUAR BIASA…
– harapan kedepan, semoga keluarga kecil dan keluarga besar, bisa ngumpul bareng, ngakak bareng dan punya sifat welas asih seperti beliau
Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s